Tanah yang Berdaya, Jiwa yang Gembira

Waktu masih kecil aku akrab dengan sawah. Untuk sekedar dolan, ngarit, nandur, matun, dodobilo, hingga panen. Namun kegiatan indah itu hanya berlangsung sampai usia SMP. Saat SMA, aku harus merantau di sekolah favorit sejauh 25 kilometer dari rumah. Tidak lagi sempat bergaul dengan tanah.

Tiga tahun di SMA, dua tahun di STAN Jakarta, kemudian tahun-tahun berikutnya kuliah di Jogja aku semakin asing dengan tanah. Tapi jiwa tak bisa berbohong, ada semacam tarikan untuk merujuki kembali si tanah. Selain itu, fisikku pun semakin rapuh.

Maka ketika kujalani terapi pola makan yang mensyaratkan konsumsi buah-sayur segar, akupun mulai taubat ekologis. Tanah nganggur di depan kos-kosan mulai kugarap dengan gagap. Mulai kupelajari kembali ilmu bertahan hidup tertua manusia; tandur.

Sembilan pohon pepaya yang kutanam di depan kos membuahkan kebahagiaan tak terperi. Hingga saat ini sudah dua tahun usia pohon-pohon itu, dan masih berbuah untuk dinikmati para penghuninya di sana. Sejak saat itu akupun mulai gemar dengan segala hal berbau kelola-tanah. Apalagi ketika kukunjungi Pak Iskandar di Bumi Langit, surganya para peng-uzlah dan radikalis, bertambah-tambah minatku pada agrikultur spiritual.

Entah sudah berapa belas kali aku dan Budi mengobrolkan cita-cita tentang lahan pertanian komunitas Santrijagad. Dia sudah menggarap lahannya sendiri, sedangkan aku belum. Konsep lahan JagadFarm kami rancang dengan begitu menyala-nyala, namnn entah kapan bisa mewujud dan berbunga.

Di rumah mertua, ada lahan kebun seluas 7x5 meter di belakang dan 7x5 meter juga di halaman depan. Sudah kubersihkan untuk digarap esok saat musim hujan. Halaman depan untuk ditanami pepaya beserta pepohonan tinggi. Kebun belakang untuk budidaya sayur-mayur dan bumbu dapur.

Dalam rangka berburu bibit, tak sengaja kutemukan tempat baru yang makin membarakan gairah bertanam. Namanya Kursus Pertanian Taman Tani (KPTT) di Karangduwet Salatiga. Lahan seluas 1,8 hektar ini dipenuhi beragam jenis sayuran organik. Di situ juga ada produksi biogas, bibit tanaman, benih ikan, pupuk organik cair, dan susu sapi perah.




Di bagian depan lahan, ada semacam kios untuk display hasil pertanian mereka. Ya tentu saja untuk dijual. Setiap hari mereka panen secara bergilir. Ada 30-an jenis sayur yang ditanam di sini. Misalnya satu bedengan timun sepanjang 10 meter, tiap dua hari mereka panen sekitar 20-25 kilogram. Pembeli bisa beli sayuran di kios, atau petik sendiri di lahannya langsung, malah bisa juga jadi downline di wilayahnya, semacam MLM sayur. Asik sekali.

KPTT merupakan lembaga vokasi pertanian di bawah naungan Tarekat Serikat Yesus, berdiri sejak tahun 1965. Ada tiga lokasi area KPTT, salah satunya adalah area Karangduwet yang kukunjungi. Tiap tahun mereka menyelenggarakan pelatihan tiga bulanan dan sampai tahun 2009 sudah meluluskan dua ribuan alumni diklat.

Senang sekali melihat lahan begitu produktif, dikelola oleh orang-orang berdaya. Ada sekitar 7-9 orang kulihat mondar-mandir di area lahan ini, ada yang sedang menyiram, ada yang memanen. Serta bocah cilik berkepang yang berlarian di pematang tanpa sandal, menyusul ibunya memetik terong.

Melihat tempat ini, aku langsung teringat konsep JagadFarm yang digagas Budi. Agaknya KPTT inilah model ideal rancangan kebun impiannya. Dimana lahan digarap oleh komunitas secara organik, multikultur, dan tetap bisa diharapkan hasilnya secara ekonomis-realistis.

Melihat kiriman fotoku, ibu mengusulkan agar sawah kami di Tuwel seluas seperempat hektar digarap semacam itu. Akupun membayangkan ada lokasi semacam ini di pesawahan Tuwel, selain sebagai lahan produktif untuk konsumsi, juga menjadi ruang edukasi bagi anak-anak yang hendak mengaji tentang tandur yang manusiawi.

____
Kalibening Salatiga, 13 Oktober 2018

No comments:

Powered by Blogger.