Penawar Kedongkolan

17:07
Belakangan aku kerap mutolaah kitab 'Adabul Ikhtilaf fil Islam' karya Prof. Dr. Thaha Jabir al-'Ulwani. Hasil mutolaah ini kurekam jadi sebentuk video yang insyaallah rutin diunggah di saluran youtube Madrasah Santrijagad. Di bagian pendahuluan, ada satu kisah menarik yang sangat perlu kita renungkan.

Suatu hari Rasulullah memberitahu para sahabat tentang sosok calon penghuni surga. Ternyata orang itu adalah sosok 'biasa saja' dari kalangan Anshor. Sampai tiga kali Rasulullah mengabarkan hal itu, tentu saja para sahabat lainnya penasaran.

Salah satu di antara mereka kemudian berinisiatif memata-matai si calon ahli surga itu di rumahnya. Dia beralasan sedang ada masalah di rumah. Selama tiga hari tiga malam ia menginap di rumah sahabat Anshor itu sambil mengawasinya dengan teliti.

Apa yang ditemukan? Biasa saja, tak ada yang istimewa. Tak ada melek semalaman untuk shalat dan zikir. Ibadah ritualnya standar pada umumnya umat Islam. Bahkan dia sekedar mengerjakan ibadah-ibadah fardhu. Shalat malam tidak, puasa pun tidak.

Singkat cerita, ternyata yang membuatnya pantas jadi ahli surga adalah kebersihan hatinya dari kedongkolan, kedengkian, dan kebencian kepada siapapun. Dia tidak memendam apapun di hatinya. Tiap malam dia tidur dalam keadaan hati yang selamat, merdeka, resik.

Membaca riwayat ini, hamba terngiang-ngiang irama doa-pepujian orang desa dahulu, yang diambil dari ayat Quran;

ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رءوف رحيم

"Duh Gusti, ampuni kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului dalam keimanan. Dan jangan jadikan dalam hati kami rasa dongkol terhadap orang-orang beriman, sungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."

Agaknya doa-pepujian ini pantas dilantangkan kembali di langgar-langgar kita pada masa-masa penuh kedongkolan ini.

___
Salatiga, 15 Oktober 2018

No comments:

Powered by Blogger.