Mutiara Syam dan Nusantara

02:52
Oleh: @ziatuwel

Pertama kali kukenal Fiqh as-Sirah an-Nabawiyyah karya sang syahid mimbar Syaikh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, sekitar tujuh tahun lalu saat mata kuliah Sejarah Kebudayaan Islam di semester tiga. Saat itu, di perpustakaan kampus, aku tersihir dan langsung kesengsem dengan Fiqh as-Sirah. Namun saat itu hanya kubaca dan kucomot beberapa bagian dalam buku tersebut untuk keperluan presentasi makalah, khas tradisi ala kampus.

Sejak saat itu tidak sempat kubaca lagi. Hingga beberapa hari lalu Bib Muhammad Al-Muthahar ngiklan kitab tersebut. Maka tentu saja langsung kupesan tanpa pikir panjang. Hari ini pesanan datang, setelah dibuka ternyata ada dua kitab, ternyata ketambahan bonus risalah Al-'Ulama al-Mujaddidun karya al-'allamah KH. Maimun Zubair.

Alhamdulillah! Kontan aku langsung teringat foto dua penulis kitab-kitab itu, foto dua sosok ulama besar Ahlussunnah Waljama'ah akhir zaman.

Fiqh as-Sirah mengantarkan kita untuk memahami perjalanan sejarah kehidupan Rasulullah secara kontekstual dan aplikatif. Di setiap bab, selain menyajikan data-data kejadian yang dilalui Rasulullah, penulis juga menyajikan ulasan tentang bagaimana konteks sejarah peristiwa itu serta ibrah apa yang bisa dipetik dan diterapkan di masa kini.

Agaknya Syaikh al-Buthi hendak menuntun kita memahami kejadian demi kejadian dalam hidup Rasulullah dengan pas. Semisal kenapa Islam dimunculkan di Tanah Arab pada saat itu, beliau menerangkan posisi geografis jazirah Arab yang berada di tengah-tengah raksasa peradaban pada masa tersebut. Yakni peradaban Persia, Romawi, Yunani, dan Hindi. Memahami kehidupan Rasulullah, kata beliau, sama halnya dengan memahami Islam itu sendiri. Maka mempelajari sirah beliau sama pentingnya dengan mempelajari akidah, hukum-hukum, dan akhlak Islam.

Sedangkan risalah Al-'Ulama al-Mujaddidun merupakan sekelumit ulasan tentang para ulama mujaddid (pembaharu) dari zaman ke zaman serta beberapa hal lainnya. Menurut Mbah Maimoen, setiap kurun seratus tahun, Allah Ta'ala munculkan seorang mujaddid yang menjadi jawaban bagi problem umat di masanya.

Di abad ke-12 hijriah, Mbah Maimoen menyebutkan nama al-Imam Muhammad Murtadha al-Husaini az-Zabidi sebagai mujaddid masa itu. Beliau adalah penulis kitab Ittihafu Sadat al-Muttaqin, penjelasan atas Ihya 'Ulumiddin karya Imam Ghazali. Salah satu ulama Jawa yang mengaji kitab tersebut langsung kepada beliau, kata Mbah Maimoen, adalah Kiai Abdul Mannan.

Kemudian Kiai Abdul Mannan meriwayatkan kitab ini kepada putranya, Kiai Abdullah. Dari Kiai Abdullah kepada putranya, Kiai Mahfuzh Tremas. Dari Kiai Mahfuzh kepada Kiai Faqih Maskumambang. Dari Kiai Faqih kepada muridnya, Kiai Zubair Dahlan. Dari Kiai Zubair kepada putranya yang tak lain adalah Mbah Maimoen sendiri.

Sedangkan untuk abad ini, abad ke-14 hijriah, Mbah Maimoen menyebutkan beberapa nama. Di antaranya ulama yang masih hidup seperti Sayyid Zain bin Sumaith Madinah, Sayyid Farfur al-Misri, Sayyid Hisamuddin Damaskus, dan Sayyid Abdullathif Damaskus. Juga ulama yang telah wafat seperti Syaikh Muhammad Yasin al-Fadani dan Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki, dua guru beliau dalam periwayatan hadits.

Di risalah ini juga Mbah Maimoen menuliskan keprihatinan beliau tentang semaraknya minat orang menghapal Quran, namun tidak dengan minat mengaji maknanya. Bab ini beliau beri judul 'Keluhan Quran kepada Tuhannya'. Beliau menyayangkan banyak orang yang menghapal Quran namun sama sekali enggan memahami maknanya, tidak pula mengaji bahasa Arab yang merupakan pintu masuk memahami Quran, atau minimal mengaji isi Quran kepada para ahlinya yakni para ulama.

Kedatangan dua karya para ulama besar negeri Syam dan Nusantara ini menyimbolkan dua hal penting. Pertama; bahwa Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam masih 'hidup' di tengah-tengah kita. Bukan hanya sebagai sosok spiritual yang sering kita sapa dengan pendekatan mistis. Namun juga sebagai sosok historis yang harus kita telaah perjuangan dan metode dakwahnya secara kontekstual dan aplikatif.

Kedua; bahwa sepanjang usia dunia, tetap akan ada para pewaris Rasulullah sebagai jawaban bagi perkembangan zaman. Tugas kita para sampah peradaban hanyalah berpegang teguh kepada mereka, agar aman dalam melalui berbagai pancaroba dunia dan bisa kembali ke alam keabadian dengan selamat sentosa.

__
Kalibening, Shafar 16 Oktober 2018

No comments:

Powered by Blogger.