Mafsadat Hape dan Pilihan Solusinya

15:23
Di samping manfaanya untuk mempermudah mencatat ide, cari informasi, berdagang, transaksi dan merekam dengan kualitas bagus, ada 3 efek negatif smartphone yang kurasakan;

(1) Sangat mengurangi jatah baca buku.

Dulu bisa 1-2 buku kuselesaikan dalam seminggu dengan kepadatan kegiatan yang lumayan. Sekarang sebulan 1 buku saja sudah mending, padahal banyak waktu luangnya. Hal-hal berfaedah lain semisal wiridan dan baca Quran juga terkurangi. Kalau normalnya penghapal Quran nderes 3-5 juz sehari, hape memangkas jadi hanya 1-2 juz, mengerikan.

(2) Kurang gerak badan.

Sebab hape menjadi pelampiasan waktu luang, padahal dahulu jika ada waktu luang pasti digunakan untuk sekedar beres-beres rumah atau main keluar jalan-jalan. Tapi sekarang ketika ada waktu luang pilihannya adalah selonjor anteng hapean. Mungkin hal ini bisa juga menyebabkan penurunan kualitas interaksi sosial. Jadi kurang main ke rumah teman, tetangga, kerabat, untuk sekedar ngobrol tanya kabar hingga diskusi mendalam.

(3) Bertumpuknya sampah di kepala.

Dengan membuka media sosial maka otak kita dibombardir banyak informasi yang sebenarnya tidak begitu dibutuhkan (unnecessary information). Mulai dari kegiatan orang-orang lain hingga isu-isu kekinian yang kebanyakan tidak bertahan sampai 3 hari. Tumpukan sampah informasi ini jelas sangat berpengaruh bagi kesehatan pikiran dan mental. Fokus pun jadi berkurang sebab hape, kita jadi tidak khusyuk saat mengobrol dengan orang lain, padahal kata Habib Umar bin Hafizh; "Shahibul iltifatat lan yudrikul wushul; orang yang suka tolah-toleh, tidak fokus, takkan sampai ke tujuannya."

Belum lagi efek candu yang bisa mempengaruhi kesehatan fisik. Berkurangnya waktu istirahat yang bermutu bisa membuat kondisi kesehatan menurun. Ada banyak pilihan solusi untuk mengatasi semua mafsadat hape itu. Di antaranya;

(a) Terapkan kebijakan 'Steril Time-Place', yakni waktu dan tempat kita tidak pegang hape sama sekali. Misalnya tempat tidak boleh bawa hape; kamar tidur, ruang makan, masjid. Contoh waktu tidak boleh buka hape; bangun tidur sampai terbit matahari, maghrib sampai isya, sejam sebelum tidur malam.

(b) Batasi penggunaan media sosial cukup hanya untuk aktivitas sesuai keperluannya. Jika kita pedagang online, gunakan medsos hanya untuk keperluan berdagang, bukan sebagai etalase kehidupan pribadi. Jika kita penulis, maka manfaatkan medsos hanya untuk menebar gagasan tanpa harus merespon tanggapan, apalagi sibuk dengan isu-isu kekinian yang melenakan.

(c) Gunakan hape-hape dengan fitur sederhana yang tidak memncing nafsu kita untuk selalu memegangnya, sebagaimana kita di masa-masa 2000-an. Saat itu kita punya hape, tapi tidak 'ketungkul' dengannya. Hape betul-betul sekedar berfungsi sebagai alat komunikasi. Atau yang paling radikal; lupakan hape sama sekali.

Poin (a) dan (b) adalah solusi yang sedang kupraktekkan. Ternyata cukup efektif memangkas candu hape sedikit demi sedikit. Aku percaya bahwa candu itu perlu bagi manusia, tapi bukan candu yang bersifat profan dan fana semacam madat atau benda-benda duniawi temporer. Melainkan candu terhadap hal-hal yang bersifat transenden dan permanen, semisal 'Kalamun Qadimun' (Quran), atau amal kebajikan (aksi-aksi sosial/ekologis).

Aku sangat menikmati momen kekhusyukan dengan istri, tetumbuhan, buku, santri-santri, dan kelak dengan anak-anak.

___
Kalibening Salatiga 12 Oktober 2018

No comments:

Powered by Blogger.