Menu Buku Untuk 1440

19:12
Bulan ini aku belanja beberapa judul buku baru, baik itu beli ataupun cetak mandiri dari file pdf.

1. Ad-Da' wad Dawa' fi Akhbarin Nisa; semacam ensiklopedi tentang istilah, profil, dan quote para wanita solehah sepanjang sejarah Islam. Rencananya mau kurangkum dan terjemahkan untuk JagadPress.

2. Khulashah Ibni Ajibah; penjelasan atas kitab nahwu Jurumiyah dengan pendekatan tasawuf. Membaca kitab ini, belum pernah rasanya seasyik ini mengaji tata bahasa Arab.

3. Fiqhus Sirah an-Nabawiyyah; sejarah kehidupan Rasulullah karya Syaikh Said Ramadhan al-Buthi. Buku yang sudah membuatku tertarik sejak tujuh tahun lalu namun baru sempat terbeli.

4. Al-Ulama al-Mujaddidun; tentang para ulama mujaddid karya Mbah Kiai Maimoen Zubair, Sarang. Bonus dari bakul buku saat beli Fiqhus Sirah.

5. Memulai Permakultur dari Rumah; panduan teoretis dan praktis pengelolaan lingkungan secara berakhlak ala permakultur. Kebetulan aku sedang menggarap kebun pekarangan di rumah mertua. Dan permakultur adalah pola yang sangat pas bagi nuraniku.

6. Age of Peace; tulisan ciamik dari praktisi perdamaian asal India, Maulana Wahiduddin Khan, yang dahulu pernah menghadiahiku buku The Quranic Wisdom.

Sejak lancar diajari membaca oleh bapak saat TK, aku jadi begitu menggemari bacaan. Sejak ngaji nahwu-shorof di madrasah, aku mulai suka membaca kitab-kitab salaf berbahasa Arab, khususnya karya Imam Haddad. Sejak kursus bahasa Inggris jaman SMP, aku mulai gemar membaca literatur berbahasa Inggris.

Meskipun masih pasif dalam berbahasa Inggris dan Arab, kurasakan betul manfaatnya. Maka jika kelak Gusti Allah mengijabahi cita-citaku mendirikan madrasah, pondasi penguasaan bahasa akan kuprioritaskan di jenjang-jenjang awal.

Sebagai penikmat buku, aku meyakini bahwa ilmu sejati tidak terrekam dalam lembaran kertas. Namun dengan keyakinan semacam itu tidak pula mengurangi minatku membaca buku-buku. Membaca, menelaah, dan mendiskusikan buku masih menjadi surga keasyikan buatku. Aku merasa begitu antusias jika berbincang dengan kawan-kawan tentang edukasi, literasi, dan geliat kreativitas. Namun akan sangat malas jika obrolan sudah mengarah pada eksploitasi bisnis, apalagi kericuhan taktis politis.

MUTOLAAH

Sebagaimana hal-hal lain dalam kehidupan, menurutku membaca juga butuh prioritas. Tentu saja prioritas ini tergantung pada keminatan dan posisi atau peran kita dalam kehidupan. Untuk tahun ini aku sedang berperan sebagai guru madrasah. Maka prioritas saat ini adalah pengokohan dasar-dasar ilmu agama yang sudah pernah kupelajari di madrasah dan pesantren.

Ada 15 cabang ilmu yang kuprioritaskan jadi bahan mutolaah untuk tahun ini. Yakni cabang-cabang ilmu mendasar yang dipelajari di pesantren. Referensi yang kugunakan untuk mutolaah pun adalah kitab-kitab kecil yang padat dan sederhana. Yaitu;

1. Tauhid; Risalah Awal-Tsani.
2. Fiqh; Fathul Qarib.
3. Ushul Fiqh; Al-Qawaid al-Asasiyyah
4. Qawaid; Idhah, Faraidul Bahiyah
5. Faraidh; Faraidhul Ghazaliyah
6. Tasawwuf; Ihya & Nashaih (ngaji di masjid), Ayyuhal Walad
7. Nahwu; Jurumiyah, Syarh Ibnu Ajibah
8. Shorof; Shorof Krapyak
9. Manthiq; Sullamul Munauroq
10. Hadits; Syarh Arbain
11. Tafsir; Jalalain (ngaji di masjid), Marah Labid
12. Ulumul Hadits; Al-Qawaid Maliki
13. Ulumul Quran; Mushtolah, Ibhats
14. Tajwid; Ibhats
15. Sirah; Fiqhus Sirah

Ditambah lagi mutolaah beberapa buku yang sedang kubuat versi videonya untuk channel Madrasah Santrijagad. Yakni;

1. Adabul Ikhtilaf fil Islam untuk serial Etika Berbeda Pendapat.
2. Fannul Islam Baynan Nas untuk serial Menjadi Juru Damai.
3. Al-Mu'aqah untuk serial Disabilitas Dalam Islam.
4. Syarh Sullamut Taufiq untuk serial Ngaji Fikih yang diampu Habib Ahmad Alatas tiap malam Jumat di Cikura.

Plus mutolaah beberapa buku yang sedang kurangkum untuk dijadikan naskah buku baru JagadPress. Yakni;

1. Syarh Hadits Jibril
2. Nubdzatus Shughro
3. Akhbarun Nisa
4. Alfu Qishah

Entah mengapa, aku sangat menikmati bergumul dengan buku-buku. Namun kusadari betul bahwa buku bukanlah segalanya dalam semesta ilmu. Sebelum mondok di pesantren, aku mengaji kesana kemari. Tapi setelah mondok rasanya sungguh berbeda. Kurasakan betul bahwa kembara wawasan dan tumpukan pengetahuan tak ada apa-apanya dibandingkan nuur-nya guru.

MINDMAP

Mutolaah yang efektif -buatku- adalah dengan cara menuliskannya kembali. Tapi tentu saja tidak dengan menuliskan keseluruhannya sebagaimana dilakukan santri Lirboyo. Akan sangat melelahkan dan menyita waktu. Cukuplah dengan menuliskan poin-poin pentingnya atau kata-kata kuncinya saja untuk dibuat semacam 'jembatan keledai' ala Tan Malaka.

Biasanya, aku cukup menyediakan selembar kertas dan menggambar peta ide (mindmap) di sana. Cara ini cukup efektif. Sehingga ketika aku hendak mutolaah kembali, aku cukup melihat mindmap itu dan menguraikannya dalam pikiran. Jika terasa masih samar, akan kubuka lagi bab tersebut untuk dibaca ulang.

Lalu bagaimana dengan alokasi waktu untuk mutolaah buku sebanyak itu? Dalam sehari aku hanya mutolaah 1 kitab tiap bakda isya, sebab aku juga mesti mengutamakan hapalan dan deresan Quran. Belum lagi ikhtiar nafkah dengan menulis. Tiap satu kitab kubaca tuntas, baru kulanjutkan baca kitab lainnya. Tidak selang-seling karena akan memecah fokus, not my style. Maka semua kitab dalam daftar tersebut kusortir, kuambil dari rak dan kutaruh di atas meja.

Ritme mutolaah ini kujalani dengan santai dan bersemangat. Catatan ini kubuat sebagai bahan evaluasi setahun ke depan; kitab apa saja yang termutolaah, ter-mindmap-kan, terpahami. Sebagai santri, bagiku dasar-dasar 15 cabang ilmu di atas memang sepatutnya sudah dikuasai sebelum usiaku menginjak 30 tahun. Setelah itu, mutolaah bisa difokuskan pada cabang ilmu yang menjadi spesialisasi/minat dengan lebih mendalam, memakai kitab yang lebih kompleks.

Semoga ada manfaatnya, terutama untuk diriku sendiri, istri dan anakku kelak. Amin.

___
Salatiga Jumat, 19 Oktober 2018

No comments:

Powered by Blogger.