Dakwah Grafis Santri?

08:39
Di era digital dan internet saat ini, hamba sering sok mengamati gelagat dakwah dan promosi pemahaman di media sosial. Entah berupa jadwal kajian, kalam pemuka agama, maupun doktrin-doktrin pemahaman.
Dakwah Grafis Santri?
Dari sekian banyak taburan pamflet, poster, komik, leaflet, hingga desain website, ada yang enak dipandang, ada pula yang 'mengerikan'. Bolehlah kau mengklaim dodol buatanmu lezat, tapi aku bakal kehilangan selera bila kau bungkus dodol itu dengan tissu toilet bekas pakai. Huek.

Begitu juga penampilan grafis di ranah cyber. Cieeeh bahasaku. Komposisi warna, bentuk, gaya, sangat mempengaruhi aura pesan yang disampaikan. Si dai grafis musti betul-betul memahami bagaimana desain yang pop sekaligus elegan dan mampu menyampaikan pesan. Di satu sisi, ia bisa menerobos benteng perhatian khalayak, sekaligus menyajikan wibawa pesan yang dibawa.

Kalangan pesantren yang seringkali mengklaim sebagai pewaris sah Walisongo alangkah baiknya jika menggarap ranah ini. Sementara yang hamba amati, kualitas dakwah grafis santri masih di bawah rata-rata. Ada yang terlihat terlalu ramai dengan ornamen khas bekgron panggung, ada pula yang norak dengan atraksi warna yang tak serasi, ada pula yang terlalu ruwet dengan berbagai keterangan tak perlu.

Belum lagi uraian tertulis yang seringkali melompati pagar tata bahasa terlalu jauh dan tidak komunikatif. Boros kata-kata dan ketiakefektifan bahasa di sana sini. Intinya, desain grafis dan gaya tulis belum mendapat perhatian yang cukup serius di kalangan santri. Padahal dua hal ini menjadi media dakwah nilai-nilai mulia ala santri yang lumayan ampuh di zaman ini.

Iya, memang dakwah nilai yang paling utama adalah dengan teladan guru dan talaqqi langsung dengan pembimbing rohani, namun amunisi grafis tak kalah penting sebagai pemancing minat dan ketertarikan khalayak. Bila dibandingkan dengan gaya dakwah grafis saudara-saudara 'harakah', santri masih ketinggalan. Meskipun secara khazanah keilmuan dan kedewasaan penghayatan santri masih unggul, namun dalam konteks dakwah, bungkus jangan disepelekan.

Ini belum lagi kalau kita bicara videografi melalui media sosial semacam Youtube maupun media massa seperti televisi. Santri sepertinya memang belum mampu. Padahal sumberdaya manusia kita berserakan kalau mau digarap. Banyak yang jago desain, baik secara akademik maupun otodidak.

~
Krapyak Yogyakarta, 13/02/2015.

1 comment:

  1. Salam.
    Saya beberapa kali mengamati tulisan jenengan, baik di facebook maupun di web ini (belakangan ini), saya tertarik dengan tema ini. Kebetulan saya sudah sejak tahun 2016an mulai tertarik dan terjun pada dunia desain grafis. Kebetulan juga saya pernah akrab dengan dunia harakah, sebelum akhirnya saya memutuskan mundur dari pentas gerakan haroki. Sekadar berbagi pengalaman saja, memang sependek pengamatan saya, mereka yang bergerak dalam bidang komunikasi (grafis maupun video) baik yang sekadar suka nge-desain, atau yang benar-benar kompeten tahu tentang tetek bengek desain, banyak yang kemudian tertarik berhijrah dan bergabung dalam harokah. Di sanalah kemudian atas dasar khidmat pada dakwah (yang belakangan menjadi tren alternatif), orang-orang dengan kualitas yang tidak main-main menggarap potensi milenial melalui dakwah grafis. Ini, saya kira, yang menjadi perbedaan mencolok antara mereka yang berhaluan jamaah harakah dengan mereka yang berhaluan tradisional.
    Sekadar informasi, bahwa SDM mereka memang bersumber dari mereka yang memiliki background desain dan multimedia, maupun mereka yang sekadar suka tapi benar-benar expert dalam bidang-bidang itu.


    Lutfi.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.